Berita utama:
Geliat malam kota pelajar
Yogyakarta adalah kota pelajar yang kaya akan budaya dan penduduknya, hampir sebagian penduduk Kota Yogyakarta adalah mahasiswa atau pelajar yang berniat mencari ilmu. Tapi bagaimanakah jadinya bila kota yang dijuluki sebagai kota pelajar ini, malah tidak sesuai dengan predikat yang disandangnya. Banyak tindakan prostitusi atau bisa dibilang sebagai tindakan abnormal yang dilakukan oleh mahasiswa atau pelajar sewajarnya.
- Bentuk2 nongkrong…(observsi)
- Negtif
- positif
- Pelaku?
- Pendpat masrkt
- Akademisi
- Tokoh agama
Mahasiswa sewajarnya hanya bergulat dengan tugas-tugas kuliah dan lain sebagainya. Bagaimana jika mahasiswa malah memenuhi tempat-tempat nongkrong malam seperti Café, club-club malam, dan membentuk komunitas yang tidak lazim atau tabu dikalangan masyarakat seperti komunitas gay atau homo. Aktifitas remaja Jogja di malam hari mulailah terlihat, di salah satu tempat nongkrong malam, tempat favorit mahasiswa menghabiskan sisa hari setelah seharian penuh melakukan aktifitas yang melelahkan yaitu café kopi. Pertama kali kita mendengar café kopi, kita pasti berpikir tempat kongkow enak bersama teman-teman, dengan secangkir kopi dan snack, bermain kartu ataupun untuk sekedar ngobrol dan bercanda bersama teman..
Tapi tahukah kalian bahwa café kopi yang kita tahu selama ini jauh dari perkiraan kita sebelumnya, café kopi itu lebih tepatnya tempat maksiat daripada tempat santai. Banyak mahasiswa pendatang yang sengaja nongkrong disana hanya untuk mencari perempuan, teman melakukan tindakan seks. "yah..sekedar main kartu , ngobrol sama teman sekalian cari cewek", ungkap Mr.X. Ironisnya, perempuan yang ada di café kopi itu, hanya mempunyai harga diri seharga secangkir kopi. "Iya, kalau ceweknya baik-baik , kami pun segan berbuat nyeleneh kayak gitu, tp berhubung ceweknya juga doyan, ya..ayuk aja.toh juga saya dapat senengnya ko", ujar Mr. Y polos. Bayangkan hanya dengan bermodalkan secangkir kopi dan rayuan gombal, mahasiswa yang katanya adalah manusia intelektual tadi bisa dengan gampang mengikuti ajakan setan tersebut. Dimanakah letak akal sehat mahasiswa jaman sekarang, saya sebagai mahasiswa malu dengan adanya insiden seperti ini. Ditambah lagi tidak adanya tindakan lebih lanjut dari pihak berwajib, kita seperti hanya menunduk menyaksikan putra dan putri penerus bangsa melakukan tindakan abnormal seperti itu. Bagaimana bangsa kita bisa maju, kalau pemuda penerus bangsanya saja seperti ini???
Adevia oki damara (153070167), Pewancara : ……..
Berita-berita pendukung:
- Seks bebas
- Profil/hasil wawancara
- Guy
- Positif –kreatif
- Mobil
- Wawancara
Seks Bebas
Nongkrong itu Asyik
Narasumber: (identitas disamarkan)
Iwan, 21 tahun, mahasiswa dan Jono, 21 tahun, Mahasiswa.
Pertanyaan dan jawaban:
Apakah anda suka nongkrong di café?
Jawab: Iya, terutama saat waktu senggang, menyegarkan otak sehabis kuliah.
Dimanakah café yang sering anda kunjungi?
Jawab : Di Mangkubumi dan di Gubuk café, yang lebih sering di Gubuk,ditambah lagi karena historisnya gubuk café.
Kenapa anda menyukai Gubuk café untuk nongkrong?
Jawab: karena Gubuk café banyak dikenal orang, jadi lbh gampang untuk mengajak teman-teman lainnya, ditambah lagi tempatnya dekat rumah.
Kenapa anda menyukai nongkrong di Café?
Jawab : nongkrong di café hanya sekedar kegiatan utk merefresh otak seharian kuliah,sekalian bisa ngobrol dengan teman, bisa juga maen kartu.
Berapa minggu sekali anda nongkrong di Café?
Jawab : paling sering seminggu sekali, tidak menentu tergantung mood.
Berapa uang yang anda habiskan dalam semalam di Café?
Jawab: paling banter 10.000 , secangkir kopi dan snack.
Berapa jam anda biasanya menghabiskan waktu di Café?
Jawab: Biasanya sampai jam 1-2 malam tp terkadang juga pernah sampai cafénya tutup.
Hal apa yang anda lakukan sampai selarut itu selain untuk ngobrol dengan teman?
Jawab: yah…banyak, main kartu, ngobrol sekalian cari cewek.
Maksud anda mencari cewek sama dengan mencari pacar?
Jawab : ya nda lah, mana mau aku punya cewek bekas orang. Untuk dipakai seneng-seneng aja, digilir bareng-bareng.(ketawa)
Bagaimana cara anda mencari teman wanita ditempat seramai itu?
Jawab : Biasanya dia yang lebih dulu memberikan sinyal kepada saya seperti memberikan senyuman atau lambaian.
Biasanya tindakan apa yang akan anda lakukan?
Jawab: Biasanya saya langsung mengajak kenalan atau ngajak ngobrol, kasih minuman atau snack, minta no.hp ,yah…merayu sedikit lah.
Jadi hanya dengan modal pintar ngomong dan kasih minuman atau snack , anda dengan mudah mendapatkan wanita tersebut?
Jawab: Iya, kalau ceweknya baik-baik , kami pun segan berbuat nyeleneh kayak gitu, tp berhubung ceweknya juga doyan, ya..ayuk aja.toh juga saya dapat senengnya ko.
Apa yang anda lakukan setelah itu?
Jawab: saya inepin dikontrakan, biasanya temen-temen juga ikut gilir.
Apakah wanita tadi melakukan ini dalam keadaan sadar?
Jawab: Iya, sadar dan sehat walafiat (ketawa)
Apakah wanita tadi mahasiswa?
Jawab: iya, kebanyakan mahasiswa swasta yang terkenal di Yogyakarta.
Apakah wanita ini pendatang atau orang Yogyakarta asli?
Jawab: kebanyakan pendatang tapi orang asli Yogya juga ada ko. Kalau saya pikir, semua ni gara-gara sikap pendatang yang sering kali nyeleneh karena jauh dari kawasan orang tua,jadi berbuat seenaknya, dikiranya keren sehingga kebanyakan dicontoh oleh orang Yogya asli.
Apakah anda pernah menanyakan kepada wanita itu, kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu?
Jawab: pernah, ada yang bilang katanya dia habis diputusin pacarnya atau dia itu korban dari keluarga yang kurang bahagia atau broken home. Jadi kalau udah basah, nyebur sekalian (ketawa)
Kalau begitu, hal ini sama saja termasuk tindakan prostitusi, apakah pihak berwajib mengetahui hal ini?
Jawab : Iya, polisi mengetahui tindakan ini tapi walaupun begitu tetap saja tidak ada tindak lanjut dari pihak berwajib.tempat seperti itu tetap saja ramai dan banyak peminatnya.
Bagaimana anda mengetahui kalau polisi mengetahui hal ini?
Jawab: Saya pernah melihat polisi keluar dari café sekitar tengah malam, yang awalnya Cuma segerombolan polisi-polisi aja,ee pulangnya bawa cewek.
Aktifitas Clubbers di Club malam
Larut malam kota Jogja selalu ramai dipenuhi kawula muda. Para remaja terlihat berantusias menikmati malamnya kota Jogja dengan aksi clubbing yang diiringi alunan Dj dan para wanita seksi melenggang di atas bar. Terlihat frekuensi kawula muda Jogja semakin bertambah untuk melakukan aktifitas di malam hari.
Aktifitas remaja Jogja di malam hari mulailah terlihat, salah satunya aksi para clubbers mania in Jogja. Pada malam hari club malam di Jogja mulailah terpenuhi anak muda baik berasal dari luar Jogja maupun asli Jogja.
Rata-rata para clubbers memiliki tujuan yang sama yaitu ingin lebih mendapatkan banyak teman dan mendapatkan rasa have fun dari alunan music Dj maupun asap rokok. Tidak dipungkiri alkhohol juga turut menemani aksi clubbers mania. “Cubbers tanpa minum?’wah kurang afdol rasanya, bagai sayur tanpa garam.” Kalimat tersebut terucap dari clubbers mania saat ngobrol dengan kami. Dari beberapa hal ada sesuatu yang menarik bila disimak. Saat ini di Jogja mulai menyediakan tempat clubbing yang pada hari tertentu, acara tertentu, tema tertentu mengadakan acara kumpulnya para “Guy” di Jogja untuk clubbing bersama. Dengan kata lain tempat clubbing tersebut pada hari tertentu mayoritas berisikan para Guy. Menurut Mr. X yang pada saat itu mau berbagi cerita, mengatakan aktifitas mereka sama halnya dengan clubbers yang lain. Perbedaannya hanya pada tema acaranya, pada malam Guy ini hanya mengkhususkan untuk kaum Guy dan tidak terlalu terbuka. Mr. X mengatakan bila bila sudah di dalam cafe lampu tidak begitu terlihat dengan jelas. Maka pasangan Guy mulai menunjukkan aksi mereka seperti berpelukan, menari, bercumbu sama halnya dengan orang berpacaran.
Ironisnya kata kota pelajar mulai luntur seiiring berjalannya waktu. Saat ini lebih dapat dikatakan “Jogja Kota Malam bagi Kawula Muda. Perspektif itu yang dikatakan Ibu Kos selaku pengelola asrama putri di Jogja. Menurut beliau saat ini jaman sudah “edan”, kultur yang dimiliki Jogja mulailah luntur. Dengan terbukti banyaknya gadis Jogja yang enggan lagi berbusana rapet dan lebih menggumbar udel. Ujar Ibu Sri selaku Ibu Kos.
Apaka kata dugem yang sudah menjamur? Dan apakah, clubbers mulai menjadi life style? Semua itu dapat kita jawab sesuai dengan perspektif dan keyakinan yang dimiliki setiap orang. Namun bagaimana keadaan kota pelajar antinya kita harus tetap dapat menjaga kultur dan tetap menjadikan kota pelajar adalah kotanya para pelajar untuk menuntut ilmu.
Penulis :
Pewawancara :
(Reza, Fenti and Yogi)
Kegiatan malam komunitas mobil
Tidak semua aktifitas di malam hari menimbulkan dampak yang negative. Seperti yang ditemui pada club mobil di Jogja yang terbentuk pada bulan maret, tahun 2006. Club mobil ini dinamai “ THE CHICKEN”, terbentuk karena kesamaan para anggota mereka yakni sama-sama hobbi memodifikasi mobil. Sudah banyak aktifitas posiitif yang dilakukan para anggotanya.
Berawal dari bengkel dan obrolan-obrolan tentang modifikasi “THE CHICKEN” terbentuk. ”Tentunya dengan tujuan yang sama dapat menambah informasi mengenai modifikasi yang up to date dan oke punya”, ujar Ardi salah satu anggota. Menurutnya bila sudah bergabung dengan teman-teman yang lain yaitu para Big Boy (sebutan anggota The chicken) dirinya akan lebih merasa percaya diri.
Dari club mobil “THE CHICKEN” banyak melahirkan kekreatifiatasan yang unik dam spektakuler. Salah satunya mengadakan event tahunan memodifikasi mobil, dimana hadiahnya cukup menjanjikan. Dan yang paling bermanfaat bagi orang banyak para pemenang contes mobil biasanya selalu memberikan setengahnya pada panti asuhan di Jogja. Tidak hanya itu acara bakti sosial sering dilakuan oleh para anggota “THE CHICKEN”, seperti pada saat gempa di Padang para anggota melakukan sumbangan per orang lalu mengumpulkannya menjadi satu dan perwakilan dari merela langsung menyerahkannya pada korban gempa di Padang.
Ternyata masih ada anak muda di Jogja yang mampu melakukan hal-hal bermanfaat bagi orang lain. Diakui bahwa setiap anggota “THE CHICKEN” dari kalangan elite dan mahasiswa yang melakuakan studi di Jogja. Tak heran image elite dan intelektualitas melekat pada komunitas ini. “THE CHICKEN” berharap bagi siapapun yang memiliki hobi untuk memodifikasi mobil dapat memiliki wadah tersendiri untuk berkumpul dan dapat menyalurkan hobbi yang dimiliki oleh setiap anggotanya.(Fenty)....
NONGKRONG KREATIF
lead
Kota Yogyakarta belum banyak berubah, terutama spot atau tempat-tempatnya yang menarik, seperti angkringan atau café kecil. Kota ini juga masih memiliki kehangatan yang menjadi daya pikatnya selama ini. Tak heran, tempat-tempat nongkrong di Kota Gudeg ini selalu ramai pengunjung. Bukan hanya wisatawan, mahasiswa dan pelajar hingga masyarakat umum juga menjadi konsumen yang menjanjikan. Namun dibalik kegiatan tersebut ada pula sisi negatif yang dirasakan para orang tua mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan, seperti yang diceritakan oleh Pak Hendrin, “Saya khawatir anak saya terjerumus dalam pergaulan bebas, karena hampir setiap malam anak saya nongkrong di cafe-cafe yang ada di sekitaran kampusnya, sehingga studinya agak terbengkalai. Saya mengalami kesulitan dalam memberi tahu karena anak saya laki-laki dan sifatnya keras”.
Hal yang berbeda dirasakan oleh R&R, sebuah gank yang semua anggotanya wanita. Bagi mereka nongkrong bukanlah kegiatan yang negatif melainkan ajang positif untuk diskusi, mencari ide bahkan untuk menambah uang jajan. Mereka biasa berjualan aksesoris hingga promosi clothing ketika mereka sedang nongkrong dengan teman-teman yang lain. “Kalau aku lebih seneng nyari ide buat bikin lagu kalo pas lagi nongkrong ma anak-anak, sambil cuci mata sapa tau dapet jodoh” ujar May. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Andra, menurutnya efek nongkrong tergantung kita sendiri, ingin menjadikannya hal yang baik atau buruk. “Kadang nongkrong sampai larut buat aku males kuliah pagi, tapi kalo aku nongkrong juga perlu dijadwal biar ngga ganggu kegiatan laen” tambah Andra. Kalau untuk imej, mereka mengatakan tidak terganggu dengan hal tersebut karena menurut mereka, selama mereka tidak berbuat, tidak perlu pusing dengan opini orang lain. Ada pula sisi baik yang berbeda dari nongkrong menurut Pita, Dian dan Koko, yaitu sebagai pilihan untuk refresh ditengah-tengah kegiatan kampus yang padat.
“Gimana mau ganggu, wong kita jalannya sama cowok-cowok” jelas Dian dan Pita ketika ditanya mengenai gangguan yang pernah mereka alami ketika nongkrong. Meskipun demikian Dian juga memiliki pengalaman tidak menyenangkan ketika sedang nongkrong. Seorang laki-laki pernah mendatanginya untuk PDKT (pendekatan) yang berujung pada ketidaksopanan, namun hal tersebut tak membuatnya jera karena kejadian tersebut dapat teratasi dengan tidak menanggapi laki-laki tersebut.
Selain mendapatkan inspirasi atau ide, dengan nongkrong juga bias mendapatkan obyek yang cukup menarik. Seperti yang dilakukan oleh sekumpulan mahasiswa UPN yang tergabung dalam Fotkom. Mereka biasa menghabiskan malam dengan nongkrong di sekitaran tugu, selain untuk berbincang mereka juga mengambil gambar-gambar menarik sebagai salah satu usaha mengasah kemampuan mereka dalam bidang fotografi.
Dengan demikian, nongkrong bukan sesuatu hal yang perlu dihindari atau dipandang negatif. Selama kegiatan tersebut masih dalam jalur yang benar, apalagi dapat membawa ke suatu usaha kreatif dalam konteks positif. Seperti yang diungkapkan Silvi, mahasiswa tingkat akhir Institut Seni Indonesia, “Predikat kota pelajar mulai memudar seiring berkembangnya kota dan kebiasan mereka untuk lebih memilih nongkrong dari pada belajar. Lagian gaya hidup hedonis lebih semarak. Kadang bincang-bincang malam memang menghasilkan ide-ide kreatif. Tapi tak jarang semua berujung pada hal-hal negatif, semua kembali lagi pada pribadi masing-masing orang”.( Dewi kurniawati 153080192)
Alun-alun Kidul sebagai Alternatif Tempat Nongkrong
Lead
Yogkakarta mempunyai julukan sebagai Kota Pelajar. Tak heran jika banyak sekali mahasiswa ataupun pelajar yang memilih Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Daya tarik Yogyakarta juga terletak di pariwisatanya yang unik dengan unsur Kerajaan Jawa maupun Kerajaan zaman dahulu. Salah satunya adalah Alun-alun Kidul atau sering disebut Alkid yaitu lapangan berbentuk bundar dan terdapat dua pohon beringin di tenganya yang terletak di sebelah selatan Keraton Yogyakarta. Wisatawan yang datang ke Alkid, rata-rata mencoba untuk berjalan melewati dua pohon beringin menggunakan penutup mata. Saat ini, tersedia pula berbagai makanan atau jajanan, mainan, hingga jasa penyewaan sepeda 2 pedal / 3 pedal, mini andhong, maupun mini becak. Wisatawan dapat memilih permainan apa yang akan dicoba, setelah mencoba berjalan melewati pohon beringin atau hanya sekedar mencicipi jajanan yang tersedia.
Wisatawan yang datang berasal dari berbagai kota, terutama jika mendekati liburan atau akhir pekan. Selain itu, Alkid juga sering dijadikan tempat nongkrong oleh anak-anak muda. ”Kebanyakan yang datang itu anak muda, dan biasanya mereka sekedar kumpul-kumpul saja”, jelas Suwaryono, penjaga parkir Alkid. Salah satu contohnya adalah Reben dan Adin, mahasiswa semester 3 Amikom yang menjadikan Alkid sebagai tempat nongkrong karena diberitahu oleh temannya yang lain. ”ya, biasanya sih nongkrong itu duduk, campur gossip dalam artian ngomongin apa yang kita lihat, sebagai komentator lah”, kata Reben yang asli dari Sumatera Utara
Desy Natalia 153070252
Senin, 21 Desember 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
